Mengapa Membaca Buku?

Saya rasa sebenarnya banyak orang yang suka membaca. Mediumnya beragam, memang. Dan tentu tidak harus buku. Asalkan sudah bisa membaca, sadar atau tidak, cukup banyak tulisan yang dilahap tiap harinya. Mulai dari tweets receh yang menggemaskan, Instagram caption seseorang yang diidolakan, email kantor, sampai pesan terusan di grup WhatsApp keluarga. Pada dasarnya membaca itu digunakan hampir setiap hari. Kalau belum tertarik membaca buku, mungkin karena belum ketemu saja yang cocok. Soalnya membaca buku itu ada miripnya dengan memilih teman (atau pasangan). Cocok-cocokan. Kalau cocok ya jalan terus, kalau nggak cocok ya melihatnya saja sudah malas.

Tapi di sini saya tidak bermaksud untuk memaksa seseorang, yang tidak suka membaca lalu jadi masuk agama kutu buku. Bukan, bukan. Saya hanya mau cerita. Saat menulis ini, setelah dipikir dan dihitung, ada 8 alasan utama mengapa saya membaca buku. Siapa tahu kita punya alasan yang sama, atau kalau ada yang punya alasan lain, mari ceritakan. Ini kesempatan untuk membuka percakapan baru bukan?

1. Menambah teman sekaligus membuat obrolan mengalir dengan mudah

Dari kesukaan membaca, teman saya pun bertambah. Yang awalnya saling follow di Instagram, bisa lanjut ngobrol via direct message, dan berujung ketemu langsung dan kumpul bareng. Padahal saya sadar betul kalau sering punya kesulitan untuk memulai topik pembicaraan dengan orang yang belum dikenal dekat. Biasanya sering dibuat bingung harus cari topik perbincangan apa untuk membuat obrolan mengalir lancar. Tapi kalau punya kesukaan sama, kebingungan ini bisa serta-merta hilang saat ketemu orang yang sama-sama suka membaca buku. Wah, itu bisa langsung klik dan tanpa ragu mulut ini bertanya buku apa yang ia paling favoritkan, bertukar nama penulis yang perlu dibaca karyanya, sampai menceritakan buku terakhir yang dibaca. Mudah sekali menemukan topik yang bisa diobrolkan bersama jika sudah menyangkut buku.

2. Metode belajar yang menyenangkan

Belajar dari textbook yang dijejalkan dengan rentetan teori, data, dan ditulis dengan penuturan ilmiah seperti menyiksa saya pelan-pelan. Penting, tapi bosan. Perlu diketahui, tapi sulit menempel di otak. Tapi kalau ada contoh kasus yang dikemas dengan penuturan seperti bercerita, atau unsur fiksi dikawinkan dengan latar belakang sejarah yang sungguh terjadi, itu menyenangkan sekali untuk dibaca.

Membaca juga bisa menambah kosakata. Saya bukan ahli bahasa, tapi senang membaca kata-kata. Bahasa Indonesia yang digunakan sedari bisa berbicara pun masih menyimpan banyak kosakata yang belum saya ketahui artinya. Mendusin, bacar mulut, mengompas, pitawat, dan rudin adalah beberapa tambahan perbendaharaan kata yang saya dapat dari membaca buku Muslihat Musang Emas karya Yusi Avianto Pareanom. Kalau tidak membaca buku itu, mungkin saya tidak akan terekspos dengan kata-kata yang memang tidak umum digunakan di bidang pekerjaaan maupun kehidupan saya sehari-hari.

3. Memberi makan rasa ingin tahu tanpa merepotkan

Semakin bertambahnya usia, semakin banyak hal yang ingin saya tahu. Contoh topik yang mengusik rasa ingin tahu saya pun bermacam-macam; mulai dari creative life ala penulis yang dikagumi, kumpulan cerpen yang direkomendasikan ke saya, sampai hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan yang ingin dicari tahu validasinya.

Saya bisa bilang membaca buku tidak merepotkan karena rasa ingin tahu itu bisa dipenuhi kapan saja. Saya tidak perlu menempuh kemacetan untuk mendengar presentasi seseorang di suatu tempat, saya bisa mencerna informasi yang didapatkan sesuai dengan kecepatan membaca sendiri, ditambah lagi tentu bisa membacanya di mana saja, dan sesempatnya.

4. Mendorong untuk bersikap kritis

Ada banyak alasan yang kalau didiamkan bisa menjebak saya untuk nrimo. Sibuk, nggak punya waktu untuk memikirkan naninu lalilu biasanya jadi alasan yang paling berkontribusi untuk “pemakluman” ini. Tapi saat membaca buku, saya terekspos dengan pemikiran sang penulis, dan seakan diajak ikut serta untuk ikut berpikir kritis. Mengecek situasi yang saya punya, melihat kondisi lingkungan di tempat saya tinggal, sampai memeriksa diri sendiri. Biasanya, ada aha moment saat membaca buku, yang berhasil membuat saya untuk bersikap kritis. Mau tak mau, sadar tak sadar, pasti ada yang berubah dalam diri setelah membaca. Dan saya menikmati proses ini.

5. Menciptakan diskusi seru

Beberapa waktu yang lalu, saya sedang tergila-gila dengan bullet journal. Saat buku The Bullet Journal Method yang ditulis Rydel Carroll rilis, tentu langsung saya baca, dan bikin makin cinta dengan metode journaling ini. Teman saya pun ada yang jadi membeli buku itu karena saya terlalu bersemangat mengatakan buku itu bagus. Nah, yang tak kalah seru dari pengalaman membaca adalah diskusi yang terjadi setelahnya. Kami jadi saling bertukar dan bertanya pendapat tentang cara journaling yang paling membantu untuk diterapkan di kehidupan sehari-hari. Apa sih yang paling sesuai dengan kebutuhan kami masing-masing? Ternyata apa yang menurut saya biasa saja, bagi teman saya penting sekali. Dan apa yang bagi saya jadi prioritas pertama untuk dibuat, buat teman saya jadi nomor kesekian. Sungguh menarik mengingat kita membaca sumber buku yang sama, tapi mengimplementasikannya dengan cara yang berbeda.

6. Sumber inspirasi dan motivasi yang selalu bisa diandalkan

Untuk hal ini, buku autobiografi selalu bisa diandalkan. Saya lebih menyukai autobiografi karena ditulis langsung oleh penulisnya, sang pemilik cerita. Selalu ada pola yang bisa ditebak dari buku-buku autobiografi ini: tokoh-tokoh hebat tidak memulainya dengan gampang, dengan materi yang berlimpah seperti turun dari langit. Mereka pernah hidup dari titik nol, menghadapi masalah dan tantangan dalam hidup, tapi menyerah tidak ada di dalam kamusnya. Membaca autobiografi ini jadi obat paling mujarab kalau sudah ada gejala malas dan banyak keluhan yang terucap.

7. Melatih imajinasi

Terkadang saya berpikir kalau buku fiksi adalah potensi peristiwa yang direpresi. Imajinasi saya sering dibuat berkeliaran bebas, sampai juga dibuat ternganga saat membaca dan mengucap, “Ini mungkin banget kejadian di dunia nyata!” Selalu ada sisi gelap dalam diri manusia yang sengaja tidak mau dilihat, sengaja tidak mau dibahas, namun bisa ditelanjangi sedemikian rupa di dalam buku fiksi. Bonusnya, ada suguhan sudut pandang baru yang selama ini tidak terpikirkan dengan diajak berimajinasi masuk ke dalam buku fiksi.

Saya memilih foto dari buku Neil Gaiman yang diilustrasikan oleh Chris Riddell untuk mewakili ini.

“You’re finding out something as you read that will be vitally important for making your way in the world. And it’s this: The world doesn’t have to be like this. Things can be different.”

Neil Gaiman, Art Matters.

Ada peringatan tersembunyi sekaligus ada kepuasan yang diakui saat membaca buku fiksi yang terasa dekat dengan hidup ini. Dan imajinasi itulah yang terkadang bisa mendorong untuk bergerak, untuk kembali berkontribusi barang secuil pun di bumi ini.

8. Menemukan Representasi yang Dibutuhkan

Saya bersyukur hidup di zaman ini, dan melihat banyak penulis yang peduli dengan isu representasi. Karakter dengan latar belakang yang beragam, bisa dari jenis kelaminnya, agamanya, sukunya, bahkan profesinya. Tidak lagi eksklusif, namun sudah inklusif. Dengan karakter-karakter fiksi yang bervariasi ini, penulis bisa ikut mengayam cerita dan membuat pembacanya merasa terwakili dan tidak merasa sendiri. Ada sense of belonging yang menenangkan saat ada representasi diri yang dibaca di dalam suatu cerita.

Saat datang ke UWRF 2019, isu representasi ini juga dibahas di program You Can’t be What You Can’t See yang menekankan pentingnya representasi, bahkan sejak buku anak-anak. Contoh nyatanya dari pengalaman salah satu speaker di sana. Semakin bertambahnya usia anak perempuannya, ia yang awalnya ingin menjadi Presiden, semakin merasa profesi itu jauh dan akhirnya tidak ingin lagi menuju ke sana. Dia tidak melihat ada Presiden perempuan di negaranya. Segitu pentingnya representasi ada di dalam buku, untuk anak-anak, untuk perempuan, juga laki-laki.  

***

Membaca buku bagus rasanya seperti pulang ke rumah. Nyaman. Mungkin dengan semakin bertambahnya umur, akan makin banyak alasan kenapa saya suka membaca buku. Kita lihat nanti.