Menikmati Isi Si Parasit Lajang

Apa yang ada di dalam pikiran seorang Ayu Utami?

Tanpa ada niat melebih-lebihkan, saya sungguh ingin tahu. Sungguh kalau bisa, saya ingin rasa penasaran ini mendapat kepuasan barang sedikit saja.

Cara paling gampang, pikir saya, tentu dengan membaca bukunya.

Si Parasit Lajang adalah buku yang berisi kumpulan kolom-kolom Ayu Utami sekaligus beberapa tulisan pendeknya dari 2001-2013. Judul bukunya selalu mengundang tanya. Jika saya bawa buku ini ke kantor, ada saja yang bertanya apa maksud Si Parasit Lajang? Kenapa ia disebut begitu? Ini istilah yang dilontarkan feminis Jepang, detailnya seperti apa, sepertinya lebih baik dicari tahu sendiri di buku karena bisa merusak kenikmatan membaca kalau saya buka di sini.

Sengaja saya pilih buku ini karena tergolong sebagai non-fiksi. Harapannya tentu supaya bisa mengintip tulisan dengan latar, pengalaman, dan opini sang penulis. Topik yang dibahas menyoroti kehidupan wanita di kota. Mulai dari isu konstruksi sosial, seks, glorifikasi perkawinan, peran ganda wanita, pertanyaan tentang kodrat, konsep patriarkal, hipokrisi, sampai moral dan agama. Beberapa topik mungkin di zaman terbitnya tulisan-tulisan ini belum banyak diperbincangkan orang. Beberapa topik mungkin juga sengaja tidak diangkat ke permukaan karena bisa dianggap tidak wajar, atau malah nggak pantas. Tapi Ayu Utami melakukannya. Dengan berani mengulitinya. Dan dengan gamblang ia menunjukkan di mana sikapnya berdiri.

Semua tulisan Ayu Utami punya benang merah yang sama: hidup berkesadaran dengan sikap kritis. Jika ada yang aneh, bongkar keanehan itu. Cari dari mana sumbernya. Lalu pandangan apa yang sudah terlanjur terbentuk dan menyebar di masyarakat? Kenapa orang lain menganggap hal ini wajar?

Ada beberapa tulisan yang membuat saya gemas, bukan karena caranya menulis, tapi karena ironi yang nyata adanya. Saya terbantu untuk terus membaca karena Ayu Utami bisa menyentil beberapa isu dengan cerdas, sembari menyebarkan humor yang jenaka di beberapa tulisannya.

Percaya atau tidak, bahkan dalam KTP, kolom status pernikahan akan diisi pilihan ini: “menikah”, “cerai/janda/duda”, atau “belum menikah”. Saya belum pernah menemukan pegawai kelurahan yang mengetik “tidak menikah”. Padahal, tak ada perbedaan dampak hukum antara belum dan tidak kawin. Moralisme telah masuk ke birokrasi.

hlm. 111

Melalui buku ini saya seakan diajak untuk ikut mengamati apa saja isu yang mengusik sang penulis, dan ikut masuk ke dalam pemikirannya. Ikut menyaksikan cara dia membongkar kotak-kotak yang konyol. Dan ini jadi pengalaman yang menarik. Walau buku ini pertama kali diterbitkan tahun 2003 oleh penerbit Gagas Media (yang saya punya dari penerbit Kepustakaan Populer Gramedia cetakan keenam 2017), sebagian besar topik yang ditulis masih relevan di tahun 2019 ini. Crazy to know that we are still facing the same shit.

Diam-diam, sepertinya ini jadi alasan saya untuk menulis blog post ini. Semoga yang belum pernah membaca Si Parasit Lajang, setidaknya mencoba untuk membaca pengantar dan prolognya. Coba dua bagian itu saja dulu. Get to know how she writes and her thinking process. Karena menurut saya, buku ini penting untuk dibaca, baik oleh wanita dan pria. Untuk lebih peduli, dengan diri sendiri, orang lain, dan masyarakat kita. Karena buku yang bagus, layak untuk dikabarkan.