Waktu untuk Membaca Buku: Bagaimana, Kapan dan Berapa Lama?

Saat kecil, membaca buat saya seperti hiburan nomor satu yang selalu dicari. Pulang sekolah, yang langsung dicari selain makan, adalah buku cerita. Kalau tidak ada les atau ajakan bermain dari teman, ya cari buku cerita. Setiap ditanya ingin minta hadiah ulang tahun apa, saya pasti pilih buku cerita. Lain cerita saat sudah tua dewasa seperti sekarang. Terlena dengan rutinitas berangkat kerja dan pulang kerja, dan di luar itu pun masih perlu olahraga walau masih seadanya, bersosialisasi dengan teman (karena bertemu dengan manusia lain itu penting kawan), sampai membereskan beberapa hal lain di luar itu semua. Lantas…

Bagaimana bisa mencari waktu untuk membaca?
Berapa lama kamu membaca?
Kapan kamu membaca?

Tiga pertanyaan itu kerap ditanyakan teman atau kenalan yang tahu saya doyan baca.

Cara Mencari Waktu untuk Membaca Buku

Yang cukup melegakan dari waktu adalah, ada sebagian porsi yang bisa dikontrol. Ya, jam kerja, terutama bagi pekerja kantoran biasanya punya jam saklek perlu ada 9 jam di kantor di luar kuasa. Tapi, waktu sebelum dan sesudahnya jelas kontrolnya ada di tangan saya. Mau digunakan seperti apa? Saya yang bebas memilih.

Untuk membaca buku, saya memilih untuk mendedikasikan satu blok waktu khusus. Time block ini lumrah digunakan untuk banyak hal, mulai dari menyelesaikan suatu tugas, meeting, dan bahkan untuk hal-hal lain yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan pekerjaan seperti membaca buku. Ada rentang waktu yang saya kunci untuk membaca buku. Di rentang waktu ini, saya pasti menjauhkan berbagai benda yang berpotensi mengacaukan fokus (baca: setel night mode untuk semua perangkat yang tersambung dengan internet, lalu jauhkan dari pandangan). Kuncinya ada dua: blok waktu, dan buat suasana membaca jadi kondusif.

Baca juga: Mengapa Membaca Buku?

Lama Waktu Membaca Buku

Tidak ada aturan yang harus diikuti. Membaca adalah kegiatan yang sifatnya sangat pribadi sehingga apa yang ideal untuk saya, belum tentu sama efeknya untuk orang lain. Yang bisa saya sarankan adalah terbuka untuk mencoba beberapa opsi. Mulai dari 10 menit dulu. Kalau setelahnya waktu berlalu tanpa terasa, tambah lagi jadi 20 menit. Masih asyik? Coba tambah lagi jadi 30 menit. Terlalu lama dan jadi susah fokus? Balik lagi ke 20 menit.

Buat saya, membaca 30 menit per hari jadi angka minimal. Biasanya saya perlu 10 menit untuk “pemanasan”, membiasakan otak untuk kembali mengingat topik atau cerita yang ada di buku itu, lalu baru mulai tersedot ke dalam cerita setelahnya. 20 menit terlalu sebentar buat saya, karena sudah lagi seru-serunya, dan kalau distop bisa gemas sendiri. Hahaha. Setelah beberapa kali coba, 30 menit jadi batas minimal yang paling ideal untuk saya.

Kapan Waktu yang Tepat untuk Membaca Buku?

Lagi, tidak ada aturan yang harus diikuti. Ada orang yang lebih berfungsi di pagi hari, ada yang baru bisa fokus di malam hari, ada juga yang bisa fokus kapan saja selama suasana di sekitarnya hening. Ada yang suasana hatinya lebih senang di pagi hari, ada juga yang di malam hari. You have to find out, and decide which one works for you. Lihat diri dengan lebih jeli.

Sangat terasa, jika ada perubahan pola hidup, waktu yang ideal untuk membaca buku pun bisa ikut berubah. Dulu, saya selalu membaca di malam hari sepulang kerja, karena memang hanya punya waktu luang saat itu. Lain cerita setelah mulai menerapkan pola tidur dan pola hidup yang lebih teratur. Saya yang dulu agak antipati untuk bangun pagi, kini malah menikmati momen tenang di pagi hari dan mensyukuri pikiran yang belum dijejali berbagai macam informasi dan distraksi. Alhasil, membaca di pagi hari jadi kebiasaan semenjak delapan bulan belakangan ini.

Waktu untuk membaca buku ini berhubungan erat dengan seberapa lama yang akan kita alokasikan. Penting untuk memperhitungkan waktu secara lebih teliti, dan membuat rutinitas sebagai kerangka yang bisa menjaga.

When you have all the time in the world, a routine helps you make sure you don’t waste it.

Austin Kleon

Mari sekarang lihat contoh. Sebut saja Nona A. Dia perlu tidur tujuh jam lamanya setiap hari. Pekerja kantoran, masuk kerja jam sembilan pagi, pulang kantor jam 6 sore, dan biasanya sampai rumah jam tujuh malam. Sekarang coba buat oret-oretan untuk kerangka waktu Nona A.

  • Tidur: 00:00-06:59
  • Bangun: 07:00 (aman ya, dapat tujuh jam tidur)
  • Mandi: 07:01-07:15
  • Sarapan: 07:16-07:30
  • Siap-siap (ganti baju, dandan): 07:31-08:00
  • Perjalanan ke tempat kerja: 08:01-09:00
  • Bekerja: 09:01-18:00
  • Perjalanan pulang: 18:01-19:00
  • Makan malam, mandi: 19:01-20:00

Dari oret-oretan di atas, kita bisa lihat masih ada empat jam yang kosong sebelum jam tidur. Nah, Nona A bisa membagi-bagi lagi waktu luang ini. Mungkin dua jam bisa didedikasikan untuk bercengkerama dengan keluarga, sambil menonton acara televisi bersama. Setelahnya (pukul 22:00), Nona A bisa menggunakan sisa waktunya untuk membaca buku dengan lama yang dipilihnya. Sebut saja membaca buku selama 30 menit. Setelah membaca, masih ada waktu lagi untuk menyiapkan pakaian kerja untuk esok hari, menulis jurnal, mempersiapkan to-do-list untuk esok hari, sampai menonton atau mendengarkan musik untuk menenangkan pikiran dan persiapan tidur.

Bonus: Waktu Lain yang Bisa Digunakan untuk Membaca Buku

Pagi dan malam hari sudah pasti. Selain itu, masih ada waktu seperti:

  1. Saat buang air besar
    Hey, konon inspirasi dan fokus maksimal saat kita melakukan ini. Semoga saja buku atau gadget-nya tidak basah.
  2. Saat menggunakan transportasi umum
    Selama posisi duduk nyaman, dan tidak mabuk kalau membaca di dalam kendaraan, waktunya bisa dimanfaatkan untuk membaca.
  3. Saat menunggu
    Kalau dilihat-lihat, hidup ini penuh dengan menunggu. Menunggu jam film dimulai di bioskop, menunggu antrian di bank, menunggu nama dipanggil untuk masuk ke ruangan dokter, menunggu dijemput seseorang, sampai menunggu makanan yang dipesan sampai. Momen krik-krik bengong ini jelas bisa dipakai untuk melahap beberapa halaman buku.
  4. Saat jam makan siang
    Biasanya, kita punya rentang waktu istirahat selama satu jam. Untuk makan, 20 menit cukup. Nah, sisa 40 menitnya bisa dipakai untuk membaca kalau mau.
  5. Saat tidak ingin diganggu di tempat umum
    Membaca buku di tempat umum itu seperti pedang bermata dua: antara bisa ditanya sedang baca apa, atau yang melihat mundur teratur dengan sendirinya dan tidak mengusik “ruang” kita. Bisa dicoba, karena kalau pun ada yang bertanya, berarti punya frekuensi dan minat yang sama, lumayan kan, jadi menambah teman baru. Kalau yang terjadi yang terakhir, ya pas sekali, lanjut baca sampai puas!

Mencari waktu untuk membaca buku tidak perlu jadi tambahan beban dalam hidup. Menentukan kapan dan lamanya sesuai dengan kegiatan yang dijalani sehari-hari saja. Selalu bawa satu buku atau e-reader di dalam tas, dan pastikan ada e-book di handphone/tablet sehingga jika ada momen menunggu yang tidak terduga bisa dimanfaatkan. Selamat membaca!