Tiga Buku yang Berhasil Menuntun Saya ke Jalan yang Benar

Mohon maaf atas judul yang yaampunkokgituamatya. Bukan bermaksud melebih-lebihkan, tapi benar adanya kalau tiga buku ini punya tempat istimewa. Saya kalungkan label spesial pada ketiganya karena tidak semua buku non-fiksi yang selesai dibaca punya efek seperti ini. Tidak semua buku bisa membuat saya bergerak, atau setidaknya sekadar menimbang-nimbang untuk melakukan sesuatu. Tapi tiga buku ini bisa. Tiga buku ini layak untuk saya ceritakan di sini.

Sebenarnya, saya tidak asing melihat penampakan buku-buku yang ditulis Austin Kleon. Beberapa—terutama dua yang lebih dulu terbit—sering sekali saya lihat kalau mampir ke toko buku impor seperti Periplus dan Books & Beyond. Tapi, sering juga saya acuhkan. Show Your Work? Ya nggak usah disuruh juga sudah dilakukan dong, pekerjaan kan memang mengharuskan begitu. Steal Like an Artist? Kok gitu amat judulnya? (sekarang menatap nanar judul blog post sendiri yang kok gitu amat judulnya?). Sampai pada akhirnya saya maraton nonton beberapa rekomendasi buku di YouTube, kepoin beberapa video Austin Kleon juga saat dia jadi pembicara di beberapa acara, dan memutuskan oke deh, saya coba dulu dari Show Your Work.

Saya tidak membaca secara berurutan, karena saat itu rekomendasi buku yang menempel di otak dan video-video Austin yang ditonton berasal dari “era” Show Your Work. Jadilah urutan bacanya mulai dari buku ke-2, buku ke-3, lalu baru balik ke buku pertama. Kalau melihat dari tahun terbitnya, urutan buku Austin Kleon seperti ini:
1. Steal Like an Artist (2012)
2. Show Your Work (2014)
3. Keep Going (2019)

Karena ketiga buku ini bukan buku fiksi apalagi trilogi, bisa-bisa saja dibaca ngacak sesuai minat dan kebutuhan. Ketiganya ditulis untuk penulis dan seniman, namun saya rasa ada beberapa poin yang tetap bisa diambil oleh siapa saja, terlepas dari apa pun profesinya.

Steal Like an Artist
Austion Kleon Steal Like an Artist

Kalau ingin terjun ke dunia kreatif, atau ingin mencari gaya berkarya, Steal Like an Artist punya cara-cara praktis sekaligus menenangkan untuk dicoba. Iya, menenangkan. Di tengah gempuran untuk menjadi yang pertama dan orisinal, sudah bukan hal baru saat bertemu tekanan yang mempertanyakan auntentisitas suatu karya. Untuk mengevaluasi tentu perlu, ya. Tapi kalau sampai jadi rem yang menghambat untuk berkarya saking takut dikira ini, takut dikira itu, takut dianggap nyontek si ini, takut dianggap nyontek si itu. Ini yang gawat. Di bukunya, Austin menyampaikan, “All creative work builds on what came before. Nothing is completely original.”

Saat membaca Show Your Work, saya diingatkan kalau semua manusia pada dasarnya belajar segala sesuatu dengan meniru. Tidak ada manusia yang sedari lahir sudah tahu dirinya mau menjadi dan melakukan apa.

“We’re talking about practice here, not plagiarism—plagiarism is trying to pass someone else’s work off as your own. Copying is about reverse-engineering. It’s like a mechanic taking apart a car to see how it works.”

Saat kecil, kita belajar menulis dengan meniru apa yang diajarkan ibu atau bapak guru. Lantas, apakah cara pegang pensilnya jadi sama persis dengan yang diajarkan? Ya, nggak juga. Apakah bentuk huruf yang saya buat sama persis dengan teman-teman sekalas? Ya, nggak juga.

Saat SMP, saya tahu cara membuat catatan yang rapi dengan meniru catatan teman sekelas. Tapi kalau dibandingkan, ya isinya nggak sama, wong otaknya beda. Saat SMA, saya tertarik dengan basket dan meniru cara dribble langsung dari kaptennya. Tentu jadi bisa dribble, tapi cara memainkan bolanya nggak bisa sama. Saat kuliah, saya belajar pakai eyeliner dengan meniru apa yang beauty vlogger lakukan di YouTube. Hasilnya sudah pasti nggak sama. Bentuk matanya saja beda. By this time, I’m sure you get the point.

First, you have to figure out who to copy. Second, you have to figure out what to copy.

What to copy is a little bit trickier. Don’t just steal the style, steal the thinking behind the style.

Pilih siapa yang paling menginspirasi, cari tahu sebanyak mungkin tentang cara pikirnya, cara kerjanya, dan cari tahu lagi karya apa yang jadi favoritnya. Buat bank inspirasi, tambahkan sesuatu yang kita sukai, olah dan sesuaikan dengan cara kita. Jadikan itu modal awal untuk berkarya.

Baca juga: Waktu untuk Membaca Buku: Bagaimana, Kapan, dan Berapa Lama?

Show Your Work
Austion Kleon Show Your Work

There’s something powerful in this book that kicked and made me actually do something, hence rakcerita.com was born. Show Your Work adalah buku yang mendorong saya untuk mencoba (lagi) membuat blog. Sejak kuliah sampai detik ini, saya pernah beberapa kali membuat blog. Buat, buka, tutup. Buat, buka, tutup. Ya kalau diibaratkan toko, saya sudah kenyang menyicipi gulang tikar beberapa kali. Kalau dicari alasan kenapanya ya banyak—manusia, apalagi saya, tentu punya segudang alasan—yang selalu beda di tiap momennya. Tapi, walau sudah beberapa kali “gulung tikar”, saya juga tidak bisa mengelak kalau ada rasa aneh—yang akan seterusnya kosong dan minta diisi—kalau belum memiliki wadah untuk berbagai macam hal yang ingin saya tulis. Salah satu kalimat di buku ini seperti berbicara langsung pada saya, “Think of it (re the blog) as a self-invention machine.”

Fill your website with your work and your ideas and the stuff you care about. Over the years, you will be tempted to abandon it for the newest, shiniest social network. Don’t give ini. Don’t let it fall into neglect. Think about it in the long term. Stick with it, maintain it, and let it change with you over time.

Dua minggu setelah selesai membaca Show Your Work, blog ini pun lahir. Ada sisi perfeksionis yang perlu saya redam, karena banyak hal yang ingin saya tambah dan ubah. Ini bakal lebih bagus di blog kalau ada naninunya. Kok bagian ininya kaya gini, bisa diganti nggak ya. Hmm, font dan ukurannya kaya gini udah oke atau coba yang lain? Kalau terus diikuti, nggak akan ada habisnya. Kalau terlena, ujung-ujungnya bukannya menulis, malah keasyikan gonta-ganti printilan blog sampai kiamat rilis. Pada akhirnya, walau masih ada rasa tidak terima, ada keputusan yang perlu dipilih, dan muncul kesadaran bahwa tidak ada baiknya kalau fokus dan energi malah terkuras pada detail-detail yang menjebak dalam kondisi stagnan.

Sesuai sub-title buku ini: 10 ways to share your creativity and get discovered, di dalamnya ada 10 cara yang bisa dicoba dan diikuti. Nah, bagusnya, semua cara yang Austin tunjukkan ini bisa saya pilih dan sesuaikan dengan kesiapan diri masing-masing. Kalau baru siap untuk melakukan cara X, ya bisa coba dan tekuni dulu yang itu. Kalau merasa bisa berbarengan mencoba cara X dan Y, why not, do them both. Kalau sudah ingin mencoba cara Z, ya persiapkan juga apa yang dibutuhkan supaya benar-benar bisa dan lancar melakukannya. Tiap orang punya preferensinya masing-masing, dan bisa memilih cara yang berbeda. Yang penting: Konsisten.

Tunjukkan apa yang kita buat, apa yang menarik di mata kita, agar orang lain yang memiliki minat yang sama bisa menemukan kita. Ada hubungan yang terjalin dan terbangun dengan orang-orang ini. Setelah dilihat lagi, mirip seperti prinsip dasar terbentuknya komunitas: Ada orang yang berbagi kesukaannya— hobi, minat, atau profesi—secara online, orang lain melihat dan jadi tergerak untuk ikut berbagi, saling menemukan, lalu terhubunglah mereka dan membentuk komunitas.

Show Your Work sangat saya rekomendasikan untuk kalian yang sedang mengalami creative slump. Entah itu dalam menulis, videografi, fotografi, menggambar, kaligrafi, crafting, digital art, maupun bidang lain yang membutuhkan kreativitas seperti memasak, fashion styling, menari, dan sebagainya. Kalau merasa butuh dorongan halus untuk kembali bergerak, coba deh baca buku ini. I truly wish you can get the positive impacts too.

Keep Going
Austion Kleon Keep Going

Buku yang ini sedikit berbeda dari yang lain. Dengan terbuka, Austin mengutarakan alasan di balik penulisannya: Buku ini ditulis untuk dirinya sendiri. Lebih dari 10 tahun dia menekuni dan hidup dari bidang kreatif, dan seiring berjalannya waktu, bukannya semakin gampang, dia merasa semakin sulit. Ditambah lagi, dunia ini pun semakin “lucu”. Apa yang dikabarkan dan dibaca di berita, makin banyak yang bikin geleng-geleng kepala.

Situasi negara yang berbeda, latar belakang yang juga berbeda, tapi apa yang Austin alami relevan dengan apa yang terjadi di kehidupan kita. Pekerjaan atau passion, saat ditekuni dalam waktu yang cukup lama (sure, some of us love what we do), bukan berarti bebas 100% dari lelah. Lelah fisik, lelah mental. Kadang bisa suntuk, kadang motivasi entah lari ke mana, kadang muncul sedikit frustasi, kadang merasa tidak puas, atau justru kebalikannya—penuh semangat, ingin memulai banyak proyek baru, bahagia, puas, dan bertabur pencapaian gemilang. Tapi Austin menanyakan hal yang sama untuk keduanya: How to keep going? Bagaimana cara melanjutkannya?

Dari 10 hal yang Austin bagikan, beberapa di antaranya, tanpa disadari sudah saya lakukan juga sehari-hari, tapi tetap, ada rasa yang beda saat membaca penjelasan mengapa aktivitas A, B, C dst. itu perlu dilakukan. Dengan gaya khasnya, Austin “mencuri” pelajaran dari beberapa seniman lain, dan menjelaskannya dengan lebih rinci dengan tutur kata yang lugas dan mudah dimengerti.

Bagian yang menjadi favorit saya di buku ini adalah Build a Bliss Station. Bangun “Stasiun Kebahagiaan”. Austin mengambil ini dari buku The Power of Myth yang ditulis Joseph Campbell. Setiap orang harus punya satu ruang, atau satu waktu, dan memutus hubungan dengan semua hal-hal eksternal (manusia maupun informasi) untuk bisa mengalami dan mengeluarkan apa yang ada di dalam dirinya. Joseph Campbell menyebutnya juga sebagai inkubasi kreativitas. Mungkin tanpa diminta, kita sebenarnya sudah punya tempat atau waktu yang biasa dipilih, namun pertanyaannya adalah, apakah tempat atau waktu itu sudah digunakan maksimal, atau, setiap hari?

A bliss station can be not just a where, but also a when. Not just a sacred space, but also a sacred time.

Contohnya: Saat pulang ke rumah orang tua, berbeda dengan tempat tinggal sendiri, tentu di sana saya tidak punya tempat “sakral” yang tenang karena selalu ada saja yang mencari, minta ditemani, main ke kamar, atau mengajak untuk melakukan sesuatu bersama—yang saya anggap wajar karena hari-hari itu memang didekasikan untuk quality time bersama keluarga—namun, di sisi lain, saya juga tidak mau memutus kebiasaan yang sudah dibangun. Jadi, dalam konteks ini, yang saya punya hanyalah waktu sakral, yaitu di saat semua anggota keluarga sudah tidur. Saat itulah saya baru bisa mulai melakukan apa yang saya ingin dan butuhkan: menulis, belajar, atau membaca buku dengan tenang.

“Where is your bliss station?” Joseph Campbell bertanya. “You have to try to find it.”

Kembali ke judul “Tiga Buku yang Berhasil Menuntun Saya ke Jalan yang Benar”, kalau dirapikan sedikit, bisa sih jadi “Tiga Buku yang Mampu Menginspirasi, Memotivasi, dan Menggerakkan”, tapi ya sudah lah, saya rela punya blog post yang judulnya membuat mata mengerenyit dan hati ini agak menjerit jijik.